Mantan PM Inggris Wiston Churcil berkata bahwa :Orang pesimis selalu melihat kesulitan dalam kesempatan, Orang optimis selalu melihat kesempatan dalam kesulitan.
Sehubungan dengan krisis finasial global akhir-akhir ini mari kita telaah peluang apa yang ada dengan jatuhnya pasar modal AS. Pertama-tama kita lihat asal-usul keruntuhan perkenomian Amerika Serikat, dengan harapan menemukan peluang yang dapat membuat kita optimis.
Alur krisis finansial global sebagai berikut
Berawal dari kasus sub prime mortgage (Kepemilikan Perumahan Rakyat/KPR) pada pertengahan tahun 2007 yang mana terjadinya penunggakan kredit atas kepemilikan perumahan di AS dengan nilai yang milyaran US dollar. Sehingga mempunyai efek rantai terhadap lembaga-lembaga keuangan di sana.
“Penduduk AS mengambil kredit di berbagai bank yang ada. Lalu Bank –Bank tersebut menjadikan skema kredit mortgage sebagai Asset Back Securities (ABS) kepada lembaga-lembaga keuangan atau perusahaan asuransi seperti JP Morgan, Lehman Brothers, American International Group, Bear Stern dengan harapan agar mendapatkan benefit-benefit seperti tambahan likuiditas, asuransi aset. Selanjutnya oleh lembaga2 keuangan dijadikan salah satu portofolio untuk membuat instrument investasi yang dijual kembali ke masyarakat dalam bentuk mutual fund (reksadana) atau unit investasi pada mekanisme pasar modal . Dengan demikian alur di atas sangatlah kompleks dan rentan sekali dengan resiko default (gagal bayar) dari stakeholder yang terlibat dalam system ini.
Bila hampir 70-80% penduduk produktif AS mengambil mortgage maka sekitar 80 juta (dengan asumsi penduduk produktif AS 100 juta) mempunyai potensi default. Adapun penyebab default antara lain adalah meningkatnya inflasi terhadap kebutuhan primer (pokok) seperti makanan, pendidikan, kesehatan. Ketika masyarakat harus memilih antara kebutuhan primer atau melanjutkan cicilan mortgage maka kebutuhan primerlah yang mereka prioritaskan, contoh : memenuhi kebutuhan makan/minum, mengobati anaknya yang sakit, bayar premi asuransi kesehatan, bayar uang sekolah.
Ketika gagal bayar mortgage terjadi dengan skala besar, maka efek berantainya sangat dirasakan oleh semua stakeholder, contohnya :Bila cicilan tidak berlanjut maka perbankan akan kekurangan likuiditas, sementara bank mempunyai kewajiban pengembalian fund (dana) kepada lembaga keuangan/asuransi . Sehingga perbankan tidak dapat memenuhi pengembalian kepada pihak lembaga keuangan lainnya. Pada gilirannya lembaga-lembaga keuangan juga tidak dapat membayar unit-unit investasi yang jatuh tempo di tambah lagi disertai dengan nilai asset yang mengandung portofolio mortgage yang dimiliki lembaga keuangan/asuransi akan turun karena tidak adanya kepercayaan terhadap instrumen ini pada pasar modal .
Pada akhirnya banyak nasabah-nasabah yang melakukan redemption (penarikan unit investasi ) pada skala yang sangat massive (besar-besaran) dan juga diikuti menurunnya indikator perekonomian pasar modal seperti indeks saham (DOW JONES, S&P) dan meningkatnya inflasi, bertambahnya pengangguran. Pada saat inilah kepercayaan masyarakat AS terhadap pasar modal menjadi drop sampai mempengaruhi perkekonomian makro AS. Suka tidak suka pemerintah AS harus turun tangan supaya krisis bidang pasar modal tidak berlanjut pada krisis kepercayaan yang dalam kepada pemerintahan AS.
Selanjutnya Pemerintah AS terpaksa intervensi dengan mengeluarkan devisa negaranya untuk menyuntik krisis ini dalam rangka menumbuhkan kembali kepercayaan masyrakat kepada perbankan dan lembaga keuangan di AS. Hal ini ditempuh demi penyelamatan pasar modal AS yang konon khabarnya kapitalisasi pasar modal AS adalah 1.5 kali Total Gross National Product (GNP) Amerika Serikat.”
Bila kita telaah dari sequence (alur) di atas dapat terdeteksi bahwa uang masyarakat sekarang terkonsentrasi pada sektor riil, seperti : pangan, kesehatan, pendidikan, transportasi dan sandang. Dengan demikian kita dapat menganalogikan bahwa uang yang beredar pada sektor riil adalah USD 700 milyar .Berarti yang paling efektif untuk pasar eksport adalah apabila kita berbisnis dengan pola B to B (antar pengusaha) yang tidak melibatkan antar pemerintah, seperti contohnya : penunjang industri makanan, kesehatan dan pendidikan. Bila kita import barang dari AS, semestinyalah kita dealt (transaksi ) dengan intitusi non pemerintah yang memiliki likuiditas lebih terjamin. Lalu untuk credit line (pinjaman ) dari bank lokal sudah sepatutnya dalam currency USD sehingga menjadi hedging bila suatu saat USD terus melambung.
Mudah-mudahan analisa ini dapat berguna ketimbang hanya jadi penonton di mana kita tidak tahu mesti berbuat
The last but not least….pasti ada peluang dibalik krisis financial global ini yang penting kita harus tetap optimis dan tidak panik dalam menjalankan day by day business.
Selamat berjuang, VIVA kemandirian ekonomi.
Febrizal Rahmana
Ketua V Bidang Teknologi Informasi dan Media
BPP HIPMI