Himpunan Pengusaha Muda Indonesia
Oct 27

Mantan PM Inggris Wiston Churcil berkata bahwa :Orang pesimis selalu melihat kesulitan dalam kesempatan, Orang optimis selalu melihat kesempatan dalam kesulitan.

Sehubungan dengan krisis finasial global akhir-akhir ini mari kita telaah peluang apa yang ada dengan jatuhnya pasar modal AS. Pertama-tama kita lihat asal-usul keruntuhan perkenomian Amerika Serikat, dengan harapan menemukan peluang yang dapat membuat kita optimis.

Alur krisis finansial global sebagai berikut

Berawal dari kasus sub prime mortgage (Kepemilikan Perumahan Rakyat/KPR) pada pertengahan tahun 2007 yang mana terjadinya penunggakan kredit atas kepemilikan perumahan di AS dengan nilai yang milyaran US dollar. Sehingga mempunyai efek rantai terhadap lembaga-lembaga keuangan di sana.

“Penduduk AS mengambil kredit di berbagai bank yang ada. Lalu Bank –Bank tersebut menjadikan skema kredit mortgage sebagai Asset Back Securities (ABS) kepada lembaga-lembaga keuangan atau perusahaan asuransi seperti JP Morgan, Lehman Brothers, American International Group, Bear Stern dengan harapan agar mendapatkan benefit-benefit seperti tambahan likuiditas, asuransi aset. Selanjutnya oleh lembaga2 keuangan dijadikan salah satu portofolio untuk membuat instrument investasi yang dijual kembali ke masyarakat dalam bentuk mutual fund (reksadana) atau unit investasi pada mekanisme pasar modal . Dengan demikian alur di atas sangatlah kompleks dan rentan sekali dengan resiko default (gagal bayar) dari stakeholder yang terlibat dalam system ini.

Bila hampir 70-80% penduduk produktif AS mengambil mortgage maka sekitar 80 juta (dengan asumsi penduduk produktif AS 100 juta) mempunyai potensi default. Adapun penyebab default antara lain adalah meningkatnya inflasi terhadap kebutuhan primer (pokok) seperti makanan, pendidikan, kesehatan. Ketika masyarakat harus memilih antara kebutuhan primer atau melanjutkan cicilan mortgage maka kebutuhan primerlah yang mereka prioritaskan, contoh : memenuhi kebutuhan makan/minum, mengobati anaknya yang sakit, bayar premi asuransi kesehatan, bayar uang sekolah.

Ketika gagal bayar mortgage terjadi dengan skala besar, maka efek berantainya sangat dirasakan oleh semua stakeholder, contohnya :Bila cicilan tidak berlanjut maka perbankan akan kekurangan likuiditas, sementara bank mempunyai kewajiban pengembalian fund (dana) kepada lembaga keuangan/asuransi . Sehingga perbankan tidak dapat memenuhi pengembalian kepada pihak lembaga keuangan lainnya. Pada gilirannya lembaga-lembaga keuangan juga tidak dapat membayar unit-unit investasi yang jatuh tempo di tambah lagi disertai dengan nilai asset yang mengandung portofolio mortgage yang dimiliki lembaga keuangan/asuransi akan turun karena tidak adanya kepercayaan terhadap instrumen ini pada pasar modal .

Pada akhirnya banyak nasabah-nasabah yang melakukan redemption (penarikan unit investasi ) pada skala yang sangat massive (besar-besaran) dan juga diikuti menurunnya indikator perekonomian pasar modal seperti indeks saham (DOW JONES, S&P) dan meningkatnya inflasi, bertambahnya pengangguran. Pada saat inilah kepercayaan masyarakat AS terhadap pasar modal menjadi drop sampai mempengaruhi perkekonomian makro AS. Suka tidak suka pemerintah AS harus turun tangan supaya krisis bidang pasar modal tidak berlanjut pada krisis kepercayaan yang dalam kepada pemerintahan AS.

Selanjutnya Pemerintah AS terpaksa intervensi dengan mengeluarkan devisa negaranya untuk menyuntik krisis ini dalam rangka menumbuhkan kembali kepercayaan masyrakat kepada perbankan dan lembaga keuangan di AS. Hal ini ditempuh demi penyelamatan pasar modal AS yang konon khabarnya kapitalisasi pasar modal AS adalah 1.5 kali Total Gross National Product (GNP) Amerika Serikat.”

Bila kita telaah dari sequence (alur) di atas dapat terdeteksi bahwa uang masyarakat sekarang terkonsentrasi pada sektor riil, seperti : pangan, kesehatan, pendidikan, transportasi dan sandang. Dengan demikian kita dapat menganalogikan bahwa uang yang beredar pada sektor riil adalah USD 700 milyar .Berarti yang paling efektif untuk pasar eksport adalah apabila kita berbisnis dengan pola B to B (antar pengusaha) yang tidak melibatkan antar pemerintah, seperti contohnya : penunjang industri makanan, kesehatan dan pendidikan. Bila kita import barang dari AS, semestinyalah kita dealt (transaksi ) dengan intitusi non pemerintah yang memiliki likuiditas lebih terjamin. Lalu untuk credit line (pinjaman ) dari bank lokal sudah sepatutnya dalam currency USD sehingga menjadi hedging bila suatu saat USD terus melambung.
Mudah-mudahan analisa ini dapat berguna ketimbang hanya jadi penonton di mana kita tidak tahu mesti berbuat

The last but not least….pasti ada peluang dibalik krisis financial global ini yang penting kita harus tetap optimis dan tidak panik dalam menjalankan day by day business.

Selamat berjuang, VIVA kemandirian ekonomi.

Febrizal Rahmana
Ketua V Bidang Teknologi Informasi dan Media
BPP HIPMI

Oct 15

Seperti kita ketahui bersama bahwa krisis keuangan yg melanda pasar modal dunia saat ini adalah berawal dari gagalnya “Subprime Mortgage Loan” di sektor property yang meluluhlantakkan institusi keuangan di Amerika.. Publik dunia yg selama ini beranggapan bahwa sistem manajemen keuangan Amerika adalah yg terbaik harus menelan pil pahit menghadapi kenyataan bahwa ternyata bukan yg terbaik.. Ironisnya, Amerika akhirnya terpaksa mengakui bahwa negara super power ini harus “cry for help” kepada negara2 yg tergabung dalam G7 dan akhirnya menjadi G20 (dimana terdapat beberapa negara2 di Asia, seperti Japan, China dan India) utk bersama2 membantu mengatasi krisis yang saat ini sudah meng-global…

Dan seperti yang telah kita pahami bersama bagaimana AS menguasai sebagian besar perekonomian di hampir seluruh negara di dunia pada akhir abad 19, AS merupakan “The Most Powerful Nation” yg mendominasi hampir seluruh sektor industri di dunia spt : economics, politics, science dan culture selama lebih dari 25 th sehingga menciptakan kondisi hegemonistik yg sangat menekan negara2 lain khususnya negara2 berkembang..

Proses globalisasi yg bermula di AS dan Eropa kemudian menerpa Amerika Latin, Afrika dan Asia Pacific pada pertengahan abad 20 mengakibatkan sebagian besar negara2 berkembang mengalami implikasi negatif secara ekonomi akibat dari proses globalisasi karena kondisi ketidaksiapan mereka terhadap terpaan gelombang globalisasi..

“Globalization is Striking Back”

Peringatan tentang tanda2 hancurnya perekonomian AS juga pernah disampaikan oleh Joseph E. Stiglitz dalam bukunya “Globalization and it’s Discontents” th 2004 yg mengulas mengenai kemunafikan AS dalam penerapan proses deregulasi sektor keuangan di negara2 berkembang, dimana tujuan utamanya adalah bukan utk membantu negara2 berkembang keluar dari krisis keuangan akibat terpaan gelombang globalisasi pada th 1998, tetapi deregulasi pasar uang yg dipaksakan oleh AS bertujuan agar Wall Street dapat bebas keluar masuk dan meraup keuntungan serta berburu rente dari turbulensi naik turunnya bursa saham dan kurs mata uang..

Gabor Steingart (2008), editor majalah Der Spiegel, salah satu majalan terkemuka di Jerman mengatakan bahwa “Globalization is striking back” dimana AS akan kehilangan “key industries”, sehingga publik enggan menyimpan dana’nya di bank2 AS, pemerintah AS bahkan akhirnya mempunyai hutang yg besar di Asian Central Banks..

“The Rise of The Rest”

Fareed Zakaria (2008) mengidentifikasikan bahwa awal kehancuran perekonomian di AS mulai terasa sejak terjadinya proses degradasi, dimana dominasi AS terhadap sektor2 perekonomian di dunia mulai beralih ke sebagian besar negara2 berkembang yg disebut sebagai “The Rest of Nations”, sebanyak 124 negara mengalami pertumbuhan ekonomi lebih dari 4%. sepanjang th 2006-2007, terdiri dari 30 negara di Afrika, 10 negara di Amerika Latin, 20 negara di Timur Tengah dan sisanya di Asia Pacific, bahkan seorang Fund Manager bernama Antoine van Agtmael mengidentifikasikan sebanyak 25 perusahaan dari 124 negara tersebut merupakan perusahaan multinasional besar di masa depan, 4 perusahaan masing2 berada di Brazil, Mexico, Korea Selatan dan Taiwan, 3 perusahaan dari India, 2 perusahaan dari China serta masing2 dari Argentina, Chile, Afrika Selatan dan Malaysia..

Lihat saja saat ini, gedung tertinggi di dunia ada di Taipei dan Dubai, pusat perjudian di Las Vegas kini kalah dibanding Macau, pesawat terbang terbesar di dunia dibuat di Russia dan Ukraina, pusat perdagangan serta pabrikasi terbesar ada di China, pusat refinery terbaik kini ada di India, Ferris Wheel terbesar di dunia adalah Singapura, pusat perbelanjaan mewah (mall) terbesar kini ada di Beijing, Uni Emirat Arab merupakan sumber dana bagi kapitalisasi dan investasi di seluruh negara di dunia, orang terkaya di dunia saat ini berasal dari Mexico, dll..

Asia yg selama ini dianggap sebagai “the rest of nations” oleh Amerika dan Eropa, sudah pasti terimbas oleh krisis keuangan yg terjadi di Amerika, tetapi dg pengalaman krisis keuangan yg terjadi sebelumnya pada th 1998, Asia lebih siap menghadapi kondisi tersebut. Faktor “redundancy” yg dimiliki oleh Asia sebagai negara2 yg dianggap “pinggiran” oleh Amerika dan Eropa justru dinilai lebih mampu bertahan dari terpaan badai krisis…

Coba lihat “net asset” yg dimiliki oleh investment bank di Japan justru menjadi sangat kuat pasca krisis, menurut catatan Kompas, Rabu 15 Oktober 1998, Nomura Holdings Inc. Mampu membeli seluruh aktivitas operasional Lehman Brothers di Eropa dan Asia dg total karyawan 5500 org yg 1000 org diantaranya merupakan karyawan Lehman Brothers yg ditempatkan di Japan, untuk beroperasi di kawasan Asia Pasifik saja Nomura membayar 225 juta dolar AS. Selain itu, bank terbesar di Japan, Mitsubishi UFJ Financial Group Inc. Membeli 20% saham Mortgage Stanley dg nilai 8,4 miliar dolar AS…

Demikian pula halnya dg China, Kompas, 15 Oktober 1998, menyebutkan bahwa cadangan devisi China sebesar 1,9056 triliun dolar AS saat ini adalah yg terbesar di dunia dan menguasai sejumlah 1,3 triliun dolar AS nilai sekuritas di Amerika. Kondisi ini sangat meresahkan pemerintah Amerika karena dengan kekuatan cadangan devisa yg begitu besar China dapat menguasai perekonomian Amerika di masa depan…

Well.. This is the real condition of the world now.. The diffusion of power from the states to other actors.. This is “The Rise of The Rest”…

Dyah Kartika Rini
Ketua Kompartemen Keanggotaan dan Kaderisasi
BPP HIPMI

Oct 9

Sebagai seorang pengusaha, saya ingin menyampaikan sedikit opini mengenai krisis keuangan yang terjadi.

Yang sedang berkembang sekarang adalah masalah kekhawatiran dampak krisis Amerika dan rasa pesimis, jarang sekali yang mengangkat bagaimana mulai kuatnya ekonomi kita , saya pikir kita sebagai anggota HIPMI jangan terlalu khawatir tentang ambruknya ekonomi Amerika, memang pasti berimbas bagi mereka yang terkait langsung dan ekspor bisa dipastikan turun.

Tetapi bagi kita sebagai bangsa Indonesia dengan kekayaan yang luar biasa mulai dari pertanian, perikanan, pertambangan, wisata dsbnya, janganlah kita ikut-ikutan panik. Sudah saatnya kita memanfaatkan dengan sebaik-baiknya anugerah dan keunggulan kita tersebut dengan terus menumbuhkembangkannya. Memang harus dengan kemauan yang keras dan dukungan semua pihak, dan yang tidak kalah penting adalah sektor riil juga sangat menjanjikan bagi kita semua

Waspada memang harus selalu kita lakukan, tapi nikmati saja hidup dan hadapi kenyataan yang ada, Insya Allah akan menjadi baik

Mengkomunikasikan dan menyebarluaskan kekuatan ekonomi indonesia kepada dunia harus selalu dilakukan dan berkelanjutan, agar kita sebagai bangsa indonesia bangga dengan kekuatan kita sendiri

Mari kita bersama-sama menyebarluaskan virus kewirausahaan, mari kita tumbuh kembangkan UMKM, mari saling membesarkan, mari berjuang utk kemakmuran kita bersama, mari sebarkan berita berita baik tentang indonesia, dan cobalah untuk percaya

Jangan tidak percaya terhadap bangsa kita sendiri, Hidup Indonesiaku…… Hidup HIPMI!

Iwan Ramlan
Ketua Umum BPD HIPMI Kalimantan Selatan

Oct 5

Disclaimer

Tulisan yang disampaikan disini hanyalah merupakan opini pribadi berdasarkan analisa pribadi terhadap informasi pasar dan keuangan baik Indonesia, regional dan Amerika yang dapat diakses secara langsung maupun tidak langsung serta berdasarkan pengalaman penulis didunia keuangan selama 15 tahun. Tulisan ini hanyalah sekedar informasi sebagai bahan bacaan dan perbandingan, bukan dimaksudkan untuk memberikan masukan untuk mengambil keputusan untuk membeli ataupun menjual suatu produk keuangan dan/atau portofolio dari keuangan yang telah dimiliki. Penulis tidak bertanggung jawab terhadap segala keputusan (untung ataupun rugi) yang diambil akibat dari membaca tulisan ini dan berinvestasi. Seluruh produk investasi mempunyai resiko naik dan turun dan hilangnya investasi akan terpengaruh pada resiko pasar. Hasil investasi ataupun performance yang lampau tidak memberikan jaminan terhadap hasil investasi dimasa yang akan datang. Anda disarankan untuk melakukan tes profil resiko dan mengerti resiko investasi sebelum melakukan keputusan investasi.

BEI
Agak unik apabila kita mencermati kondisi bursa dunia pasca bailout US$ 700 miliar yang sudah ditanda tangani oleh G.W. Bush.
Dow Jones bereaksi negatif alias turun semata-mata karena ekspetasi positif akan bailout sudah termasuk dan tercantum diharga Dow sepanjang minggu dari tanggal 29 September 2008 kemarin yang masih berkutat antara 10.700 - 10.900 untuk kemudian ditutup pada hari Jum’at di harga 10.325.38 atau -157.47 (-1.5%). Penurunan sepanjang minggu ini adalah yang terburuk dalam sejarah bursa di Amerika Serikat dalam kurun waktu 7 tahun terakhir. Penurunan Dow pun disambut reaksi seragam hampir di seluruh bursa regional Asia dimulai dengan Hang Seng yang turun -2.9% dan Nikkei -1.94%. Uniknya dapat dikatakan hampir seluruh bursa di Eropa menyambut positif keputusan persetujuan bailout tersebut sehingga bursa-bursa menjadi positif.

Lalu akan seperti apa reaksi pasar modal di Indonesia alias BEI? Opini pribadi saya mengatakan besok pagi IHSG akan bereaksi positif, akan tetapi reaksi positif tersebut tidak akan berlangsung lama. Ada beberapa indikator yang menyebabkan bursa di Indonesia menunjukan prilaku yang berbeda (positif) dengan kebanyakan bursa di Asia. Aksi jual-jual saham telah banyak dilakukan oleh para pemain sepanjang 1 minggu sebelum libur Lebaran kemarin. Aksi jual tersebutpun juga bertambah parah dengan melihat indikasi gagalnya persetujuan awal bailout yang pertama kali ditolak oleh DPR nya Amerika. Sedangkan kondisi roller-coster sepanjang minggu kemarin tidak dirasakan di BEI karena libur Lebaran dan cuti bersama. IHSG ditutup -0.74% di hari terakhir transaksi (Senin) karena jumlah transaksi yang sangat tipis. Harga saham yang sudah “lumayan” murah kemudian ekspetasi pasar yang positif terhadap persetujuan bailout tersebut yang akan mengkerek IHSG naik diawal-awal trading sebelum kemudian berbalik arah. Berbalik arah bisa saja terjadi dihari yang sama atau dalam kurun waktu 1 minggu kedepan.

EKONOMI
Melihat kondisi ekonomi Indonesia sebenarnya kita patut berbangga karena kita masih termasuk salah satu yang lumayan baik dikawasan Asia maupun Asean. Akan tetapi hal ini tidaklah membuat kita terlena dan lupa diri bahwa gelombang krisis tersebut bisa saja terjadi kapan saja. Meskipun cadangan devisa kita masih cukup tinggi sekitar 58 miliar dollar akan tetapi angka ini turun sebesar 2 miliar dari 60 dibulan lalu. Pelemahan Rupiah yang cukup cepat ditanggapi BI dengan operasi pasar, nampaknya BI terus mencoba melindungi nilai tukar Rupiah Dollar agar tidak tembus ke angka psikologis pertama yaitu 9.500. Pertanyaanya apakah cadangan ini cukup untuk menahan gelombang krisis dari Amerika Serikat? Jawaban saya adalah belum tentu kuat. Sebagai perbandingan sederhana, pada saat krisis moneter terjadi di Indonesia tahun 1997-1998 cadangan devisa kita berkisar di angka 22-25 miliar dollar. Saat itu nilai tukar Rupiah ke Dollar masih dikisaran 2.500. Saat ini apabila nilai tukar kita mendekati angka 10.000 alias 4x lipat dari tahun 1997 maka seyogya nya cadangan devisa kita pun mendekati 4x lipat alias mendekati 100 miliar dollar yang nyata-nyatanya masih jauh.

Kondisi Indonesia saat inipun mirip-mirip seperti tahun 1997 dimana terjadi property bubbling. Apabila dulu property bubbling dirumah tinggal dan gedung perkantoran, saat ini terjadi di sektor perkantoran dan apartment/kondo (red. baca tulisan saya terdahulu yang berjudul “What goes up, must go down” dalam archive/blog HIPMI). Apabila gelombang krisis menghantam lagi ke Indonesia, maka kondisi property ditahun 1997-1998 akan terulang kembali. Masih banyak indikator-indikator lainnya yang apabila dibahas dalam tulisan ini akan sangat panjang. Yang terpenting adalah Indonesia jangan sok-sok an merasa kuat bahwa kita bisa melewati badai krisis tersebut (apabila terjadi). Masih segar dalam ingatan kita ketika krisis moneter menerjang Thailand di tahun 1997 Indonesia dengan angkuh nya merasa bahwa kita kuat. Nyatanya justru Indonesialah yang luluh lantak habis-habisan diterjang krisis.

Belum lagi nanti pengaruh pemilu legislatif dan pemilu President yang membuat tidak hanya situasi ekonomi akan tetapi juga politik menjadi tidak menentu di Indonesia.

Beberapa hal yang harus kita persiapkan dalam menghadapi gejolak ekonomi yang akan bumpy ini baik untuk individu maupun perusahaan.
1. Cash is the King, sebisa mungkin untuk memperbanyak posisi cash
2. Kurangi pengeluaran yang sifatnya luxury, i.e. membership golf, first class/business class traveling, dll
3. Perhitungkan inventory secara ketat, jangan over inventory
4. Perpendek account receivable, perpanjang account payable, untuk penjual sebaiknya mulai bermain lagi cash and carry dengan discount.
5. Apabila ada ekspansi bisnis yang dicover hutang besar-besaran dalam waktu 6 bulan kedepan, usahakan dicover (memiliki dana cadangan) dengan cash 12 bulan cicilan kedepan.
6. Apabila belum terjadi ekspansi bisnis, lakukan secara bertahap (dibawah 50% dari target) dari sekarang sampai dengan pemilu, 50% lagi kwartal ke 2 di tahun 2009.
7. Perbanyak cash bagi yang bermain cash flow sebanyak 6-12 bulan pengeluaran kantor.
8. Amati pergerakan US Dollar, apabila masih ada hutang-hutang dalam US Dollar lakukan hedging secepatnya secara berlevel.
9. Posisi stand by untuk membeli, ketika krisis terjadi EVERYTHING ON SALE, so be prepare untuk masuk baik itu ke bursa, produk keuangan maupun bisnis, Masuk secara bertahap karena masih akan bumpy.
10. Perbanyak berdoa, GOD BLESS ALL OF US.

Melihat keadaan ini memang cukup mengkhawatirkan dan mengerikan oleh sebab itu marilah kita bersama-sama mengetatkan ikat pinggang dan selalu waspada semoga badai bisa cepat berlalu, dan semoga analisa saya tadi salah sehingga tidak terjadi badai krisis moneter versi ke 2.

Tabik!!

Aidil Akbar Madjid*
Ketua Departemen Jasa Keuangan
BPP HIPMI

Pengarang buku The Rich Game: Cara Kaya Dengan Investasi, www.therichgame.com
Host acara Perencana Keuangan “Perfect Num8ers”, setiap Rabu malam jam 21.00-22.00 wib di O Channel Jakarta

Oct 5

Dyah Kartika Rini

“… Layaknya tikus mati di lumbung padi…” seperti itulah kondisi bangsa Indonesia saat ini, Indonesia yang sangat terkenal sebagai negara agraris, sangat kaya dengan hasil buminya ternyata tidak mampu memaksimalkan potensi industri agrarisnya. Menurut catatan Kompas (1/9/2008) bahwa Indonesia sudah masuk kedalam perangkap pangan (food trap) negara maju dan kapitalisme global sehingga selain beras, ternyata tujuh komoditas pangan utama non beras yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia saat ini sangat bergantung pada impor. Bahkan empat dari tujuh komoditas pangan utama non beras yaitu gandum, kedelai, daging ayam ras dan telur ayam ras sudah masuk kategori kritis. Meskipun belum kritis, jagung, daging sapi dan susu juga patut diwaspadai.

Jika kita cermati, kondisi krisis pangan yang menimpa bangsa Indonesia saat ini adalah merupakan manifestasi dari kelalaian kita sebagai bangsa yang besar untuk melihat potensi internal negeri ini di bidang pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan. Pola pikir masyarakat Indonesia yang saat ini masih berkutat di seputar masalah sosial dan politik rupanya membius setiap individunya untuk berlomba-lomba menjadi politisi maupun pejabat publik hingga terlena dan lalai bahwa ada begitu banyak potensi industri lain yang saat ini belum tergarap secara maksimal. Kondisi yang demikian menyebabkan bangsa Indonesia menjadi sangat bergantung pada impor pangan, yang mana saat ini telah dikuasai oleh negara-negara maju yang semakin kokoh menancapkan kuku-kuku hegemoni pangannya kepada negara-negara berkembang. Dalam upayanya untuk menguasai, bahkan mendominasi sektor pangan di dunia, negara-negara maju seperti Amerika dan Eropa melakukan proteksi dan subsidi terhadap komoditi pangannya sehingga harga yang ditawarkan dapat unggul dalam persaingan global. Parahnya, negara-negara berkembang khususnya Indonesia saat ini belum mampu bertahan terhadap terpaan gelombang globalisasi.

Kapitalisme global yang sering dituduh sebagai penyebab hancurnya perekonomian negara-negara berkembang sebenarnya bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan bagi negara-negara di dunia. Kapitalisme itu sendiri sesungguhnya merupakan sistem ekonomi yang dapat meningkatkan produktivitas dan kecanggihan teknologi dengan cara melakukan revolusi terhadap hal-hal yang lama untuk kemudian digantikan oleh hal-hal yang baru. Sistem yang demikian akan sangat menguntungkan negara-negara yang mampu beradaptasi dan melakukan efisiensi, tetapi bagi negara-negara yang tidak mampu melakukan hal tersebut pastinya akan mengalami keterpurukan. Revolusi dalam sistem kapitalisme international terhadap ekonomi global yang dicirikan oleh adanya perdagangan bebas dan terbuka bagi setiap negara di dunia, arus modal tanpa batas dan kegiatan perusahaan multinasional yang beroperasi di negara lain sungguh merupakan sebuah ancaman yang harus diantisipasi.

Mengapa kita harus melakukan impor bahan pangan? Pada prinsipnya, impor suatu produk terjadi karena tiga alasan. Pertama, produksi dalam negeri terbatas, sedangkan permintaan domestik tinggi (kelebihan permintaan di pasar domestik). Sehingga impor terpaksa dilakukan, tetapi bertujuan hanya sebagai pelengkap saja. Solusi yang sesungguhnya adalah bahwa peningkatan produksi dalam negeri akan mampu mengurangi angka impor. Sedangkan mengapa terjadi keterbatasan produksi dalam negeri? Kondisi tersebut disebabkan oleh dua hal, yaitu kapasitas produksi memang terbatas (titik optimum dalam skala ekonomis sudah tercapai), misalnya untuk kasus pertanian, lahan agraria yang tersedia terbatas karena negara tersebut memang kecil. Kemudian pemakaian kapasitas terpasang masih dibawah 100 persen karena berbagai penyebab, bisa karena keterbatasan dana atau kurangnya tenaga kerja.

Yang kedua adalah bahwa impor dilakukan karena harga produk domestik ternyata lebih tinggi daripada harga produk impor, hal tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, seperti ekonomi biaya tinggi, tingkat efisiensi yang rendah dalam memproduksi barang didalam negeri serta kualitas produk impor lebih baik dengan harga yang relatif sama bahkan lebih murah dibandingkan dengan harga produk domestik. Jika kondisinya demikian maka peningkatan angka impor akan mengurangi produksi dalam negeri, karena secara otomatis konsumen pasti akan memilih produk yang baik dengan harga yang relatif sama atau lebih murah.

Sedangkan yang ketiga, jika dilihat dari sisi neraca perdagangan (atau neraca pembayaran), impor dianggap lebih menguntungkan apabila produksi dalam negeri juga dapat di ekspor dengan asumsi bahwa harga ekspor di pasar luar negeri lebih tinggi daripada harga impor yang harus dibayar oleh pemerintah. Kondisi ini berlaku bagi produk yang telah mengalami proses ‘diferensiasi’ seperti dalam kasus persaingan monopolistik. Misalnya untuk kasus di Indonesia, masyarakat di Indonesia lebih membutuhkan beras jenis ‘A’, sementara produksi beras di Indonesia kebanyakan dari beras jenis ‘B’ yang banyak dibutuhkan di luar negeri. Sehingga kenaikan angka impor tidak mengurangi produksi dalam negeri, tetapi justru meningkatkan angka ekspor, bahkan jika kapasitas produksi dalam negeri belum sepenuhnya terpakai, kenaikkan angka impor dapat mempunyai korelasi positif dengan kenaikan produksi dalam negeri atau ekspor, dengan asumsi bahwa permintaan luar negeri terhadap produk dalam negeri meningkat.

Ketergantungan pada impor pangan juga dapat terjadi jika pemerintah menerapkan kebijakan yang “salah” dalam prosedur impor bahan pangan, misalnya dengan dibebaskannya bea masuk impor untuk jenis-jenis bahan pangan tertentu yang menyebabkan negara-negara maju mempunyai kemudahan dalam melakukan penetrasi produknya ke pasar Indonesia. Persoalan rendahnya daya saing produk pangan domestik terhadap produk negara lain juga menjadi penyebab naiknya angka impor. Selain itu pola pikir masyarakat Indonesia yang masih “overseas product minded” juga menjadi pemicu meningkatnya angka impor, masih banyak individu yang lebih menyukai produk impor daripada produk domestik, misalnya saja, begitu banyak warga di Jakarta yang lebih senang mengkonsumsi durian montong dari Bangkok daripada durian dari Medan.

Untuk itulah maka kini saatnya kita harus lebih peduli terhadap kelangsungan hidup industri pangan di Indonesia, peningkatan aktivitas penelitian dan pengembangan yang bekerjasama dengan universitas-universitas di seluruh Indonesia seperti yang disampaikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla harus sungguh-sungguh dilakukan. Tetapi sebaiknya tidak hanya sekedar dilakukan riset saja, Pemerintah juga harus lebih sering melakukan advokasi secara menyeluruh kepada para petani dan peternak mengenai budi daya pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan serta perkembangan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas produksi sehingga dapat dihasilkan produk pangan yang berkualitas. Jika hal tersebut dapat dilakukan, maka tongkat kayu dan batu jadi tanaman seperti potongan lirik dalam lagu lama yang didendangkan oleh Koes Plus benar-benar dapat terjadi…[]

Dyah Kartika RIni
Ketua Kompartemen Keanggotaan dan Kaderisasi
BPP HIPMI

- Wakil Ketua Komite Tetap Keagenan - KADIN
- Ketua Kompartemen Promosi dan Pameran - DPP REI
- Chapter President JCI Jakarta
- Guest Lecturer di Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia, Program Pasca Sarjana Universitas Sahid, Universitas Nasional dan Swiss German University

* Artikel ini juga dipublikasikan di Majalah Esquire Edisi Oktober 2008

« Previous Entries